Thursday, August 2, 2007

Strategi Baru AS, Gandeng Arab Saudi

Kamis, 02 Agustus 2007

Arab Saudi telah memberikan dukungan terhadap konferensi perdamaian yang disponsori Amerika Serikat (AS) yang akan diselenggarakan tahun ini

Hidayatullah.com-- Arab Saudi akan menghadiri konferensi yang diseponsori Amemrika itu bersama Israel dan Palestina serta negara-negara Arab lainnya. Kalangan yang diundang ini, tentu yang dipandang ”moderat” oleh Amerika.

Arab Saudi adalah negara yang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Namun Saudi termasuk sekutu Amerika Serikat.

Sebelum ini, Menlu Amerika, Condoleeza Rice, mengatakan konfrensi perdamaian ala Amerika itu diharapkan menghidupkan kembali pembicaraan damai yang macet.

Condi, akan bertemu dengan para pemimpin Israel dan Palestina untuk menghidupkan kembali perundingan menyusul pengambil-alihan Jalur Gaza oleh Hamas.

Strategi Baru

AS menjalankan strategi barunya yang dianggap banyak pihak akan menyulut instabilitas baru di Timur tengah. Beberapa waktu lalu, AS memberi bantuan persenjataan senilai milyaran dolar kepada Zionis-Israel dan sejumlah negara-negara Arab. Strategi itu digulirkan bersama dengan propaganda anti-program nuklir Iran.

Para pejabat Gedung Putih berupaya mengklaim bahwa tujuan mereka menandatangani kontrak penjualan senjata dengan sejumlah negara Timur Tengah adalah dalam rangka mengantisipasi program nuklir Iran. Koran New York Times mengutip keterangan para politisi Gedung Putih menulis, pengiriman persenjataan dengan kuantitas masif ke Timur Tengah diharapkan dapat mencegah berlanjutnya program nuklir Iran.

AS juga melakukan kontrak penjualan senjata senial 63 milyar dolar dengan Arab Saudi dan lima negara Arab lainnya di Teluk Persia, termasuk Mesir dan Uni Emirat Arab.

Sementara itu, Hamas mengkritik kunjungan Menlu AS itu ke negara-negara Timur Tengah. Mantan Menlu Palestina, Mahmoud Az-Zihar, dalam konferensi persnya kemarin mengkritik kunjungan Rice dan Menteri Pertahanan AS, Robert Gates, ke Timur Tengah, dengan menyatakan, " Sebagaimana terbukti pada pengalaman sebelumnya, kunjungan semacam ini sama sekali tak menguntungkan bangsa Palestina dan menjadikan bangsa ini sebagai korban Washington yang sengaja mengulur waktu."

Dan biasanya, pertemuan-pertemuan seperti itu hanya akan menguntungkan Amerika Serikat (AS). [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Wednesday, July 11, 2007

Sisi Lain Kasus Masjid Merah

Rabu, 11 Juli 2007

Akar konflik Masjid Merah dan pemerintah telah berjalan lama. Namun, faktanya, Musharraf mengeluarkan tuduhan Al-Qaidah. Untuk melegalkan serangan?

Hidayatullah.com—"Kejahatan kita tidak seberapa dan tidak seharusnya dihukum seberat ini," demikian jawaban ulama yang juga pemimpin Masjid Merah, Maulana Abdul Rashid Ghazi sebelum dikabarkan ikut meninggal oleh serangan pasukan Pakistan sebelum ini.

Meskipun demikian, dirinya mengaku tak akan tunduk di bawah naungan pemerintahan Musyarraf yang diakuinya telah keluar dari syariah Islam. ”Sejumlah menteri melakukan kontak telepon kepada saya supaya menyerah. Akan tetapi, kepada mereka saya mengatakan tak akan menyerah dan siap mati," ujarnya dikutip sebuah media Iran.

Ghazi adalah tokoh utama sekolah Islam yang satu kompleks dengan masjid utama yang dikenal sebagai Masjid Merah. Letak sekolah itu sendiri berada disamping masjid.

Kasus pengepungan Masjid Merah sesungguhnya bermula sudah cukup lama. Setidaknya, dimulai dengan memburuknya hubungan antara pihak pemerintah (diwakili Presiden Pervez Musharraf) dan Maulana Abdul Rashid Ghazi di pihak lain akibat perbedaan pandangan.

Beberapa bulan sebelum terjadinya kasus pengepungan areal masjid dan sekolah Islam itu, hubungan pemerintah Pakistan dengan jamaah masjid Merah sangat buruk yang akhirnya berujung serbuan yang menewaskan 160 santri kemarin.

Sebagaimana diketahui, ulama dan santri menuduh pemerintah Pakistan telah keluar dari Islam. Maulana Abdul Rashid menganggap, Musharraf adalah pemerintahan yang thahgut.

Harap tahu, Masjid Merah adalah masjid yang menjadi basis bagi penegakan syariah Islam di pakistan. Para ulama dan santri di Masjid Merah menganggap, berbagai tindakan Musharraf –khususnya hubungannya dengan AS—telah keluar dari Islam. Itu ditandai kedekatan Musharraf dengan Amerika, yang setidaknya telah banyak mengorbankan warga Muslim negeri itu. Tak sedikit para santri, ulama atau aktivis Islam sudah diserahkan Musharraf ke Amerika dan selanjutnya dibawah ke Guantanamo dengan alasan ’kampanye melawan teror’ nya Amerika.

Hubungan itu terus memburuk, sampai pada desakan pihak ulama Masjid Merah agar Mushararraf menerima pengadilan Syariah. Musharraf yang sejak awal seorang militer dan lebih dekat dengan Amerika tentu saja menolak. Suasana kian meruncing, tatkala aparat Pakistan melakukan penghancuran tujuh masjid dengan alasan ilegal. Sejak itu suasana ini menjadi makin panas hingga berujung pada pengepungan masjid tanggal 3 Juli 2007.

Sebaliknya, para santri dan pengasuh menilai, dirinya, kini, telah berhadapan dengan pemerintah Pakistan yang dan wajib hukumnya melancarkan aksi-aksi perlawanan yang dinilainya sebagai amar ma'ruf nahi munkar dan berakhir dengan yang berakhir meninggalnya 160 santri itu.

Simpati Barat

Entah karena ingin mencari simpati pada dunia atau ingin mendapat pujian Amerika, tiba-tiba Pakistan menyelesaikan konflik ini dengan menyeret pada stigma Al-Qaidah, tuduhan paling mudah untuk mebolehkan membunuh kaum Muslim.

Sebagaimana dikutip AFP, aparat menuduh di belakang Masjid Merah ada organisasi Harkatul-Jihad-e-Islami, (Gerakan Perang Suci Islam), salah satu organisasi Islam yang dikait-kaitkan AS dengan Al-Qaidah. Menariknya, penyebutan kelompok itupun masih pada taraf kecurigaan. Artinya, belum jelas benar.

"Kami yakin di sana ada militan dari Harkatul-Jihad-e-Islami, yang terlibat pembunuhan Pearl. Berdasarkan intelijen, kami mencurigai bahwa dua orang komandan kelompok itu ada di dalam," kata seorang pejabat tinggi kepada AFP yang tak mau disebut namanya.

Ghalibnya, berbagai media massa Barat (bahkan juga ditiru media Indonesia) ikut ramai-ramai mengamini tanpa melihat akar masalah. Penyebutan istilah radikal, aliran keras, seolah membolehkan membunuh banyak orang secara seenaknya.

Sejumlah anggota legislatif dan akademisi menuding Musharraf tutup mata terhadap upaya para ulama di Masjid Merah dalam bidang pendidikan. Mereka menilai peristiwa ini sebagai upaya Musharraf untuk mengalihkan perhatian rakyat dari isu-isu pemerintah yang lebih penting.

Karena itu, para pemimpin oposisi Pakistan mendesak Presiden Pervez Musharraf untuk mengundurkan diri dari jabatannya. Mereka juga mendesak pemerintah untuk mengizinkan mantan Perdana Menteri Benazir Bhutto dan Nawaz Sharif agar dapat kembali pulang ke negaranya.

Dalam pernyataan bersama di sebuah konferensi di London, Inggris, para pemimpin oposisi menyatakan peraturan militer Presiden Musharraf terbukti telah membawa Pakistan ke jurang kehancuran, perpecahan dan kerusuhan. Parlemen Pakistan sendiri sudah dipinggirkan dan tidak punya kekuatan lagi.

Konferensi yang dihadiri 38 perwakilan partai itu mendesak Presiden Musharraf mundur dari jabatannya. Pervez Musharraf mulai berkuasa sejak 1999 dalam sebuah kudeta yang menyingkirkan Nawaz Sharif. Ia kemudian menyatakan dirinya sebagai presiden tahun 2001.

Sementara itu, Mantan Perdana Menteri Pakistan Nawaz Sharif menuntut Musharraf mengundurkan diri menyusul meningkatnya instabilitas dan banyaknya upaya pembunuhan terhadap Musharraf.

"Dia harus mundur. Jika tidak, 160 juta penduduk Pakistan akan memaksa dia mundur," kata Sharif di sela-sela sebuah konferensi di London, Inggris, Sabtu. Sharif juga menyerukan digelarnya pemilu baru di bawah sebuah pemerintahan sementara yang tidak melibatkan Musharraf.

Musharraf menghadapi instabilitas yang semakin meningkat dalam beberapa bulan terakhir, termasuk pendudukan Masjid Merah, serangan kelompok Islam, dan gelombang protes akibat kebijakannya memecat hakim agung.

Instabilitas itu memicu spekulasi bahwa Musharraf akan mendongkrak dukungan meMerahui kesepakatan pembagian kekuasaan dengan Mantan Perdana Menteri Benazir Bhuto dan Partai Rakyat Pakistan yang dipimpinnya.

Sebaliknya, tokoh-tokoh opisisi Pakistan berpendapat lain. Seorang tokoh oposisi menilai, tindakan Musharraf hanya ingin menunjukkan pada Barat (baca Amerika) bahwa Pakistan bisa menanggulangi kelompok Islam.

"Pemerintahan Musharraf yakin semua persoalan bisa diselesaikan dengan kekuatan militer dan peluru, tidak peduli apa reaksi yang muncul. Pemerintah sengaja mengangkat isu ini, kemudian melancarkan operasi berdarah, untuk menunjukkan pada Barat bahwa dia mampu mengatasi masalah militansi, " ujar Qazi Hussein Ahmed, Presiden Muttehida Majlis-e-Amal (MMA), aliansi partai-partai Islam yang menjadi oposisi. Andai tengarai Hussein Ahmed itu benar, maka, sebegitukah ongkos yang harus ditunjukkan oleh para penguasa sebagai bentuk kesetiaan kepada Amerika? [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Al Ghazi: Ulama yang Pernah Bekerja Untuk “Barat”

Rabu, 11 Juli 2007

Tokoh utama yang ikut tewas oleh serangan aparat Pakistan adalah, Maulana Abd Rasyid Al Ghazi. Siapakah sesungguhnya dia? Mengapa bisa membawa senjata?

Hidayatullah.com--Abdur Rasyid Al Ghazi sejak kecil memang telah menghafal Al Qur’an, akan tetapi ia enggan untuk melanjutkan sekolah diniyah dan memilih untuk menjalani pendidikan tingkat SMU di sekolah pemerintah. Ayahnya, Abdullah sebenarnya menginginkan agar ia bisa menjadi penggantinya kelak, seperti kakaknya Abdul Aziz.

Akan tetapi ia cenderung memilih sekolah umum. Ia pernah mencoba untuk mengikuti pendidikan di Jami’ah Al Faridiyah yang berada satu komplek dengan Masjid Merah, tapi tidak lama kemudian ia keluar dan melanjutkan ke salah satu universitas negeri di Karachi hingga memperoleh gelar master dalam bidang sejarah dan fasih dalam bahasa Inggris.

Tak lama setelah itu, ia menjadi pegawai yang berada dibawah Kementrian Pendidikan, dan bahkan kemudian bekerja di salah satu badan PBB yang bergerak dalam bidang pendidikan (UNESCO).

Baru setelah ayahnya Abdullah dibunuh karena alasan agama tahun 1998, sifat Al Ghazi berubah total. Ia bahkan begitu perhatian dengan isu-isu keagamaan. Ia bahkan mulai berkhutbah di masjid. Itulah yang membuat kakaknya Syaikh Abdul Aziz bergembira dan menunjuknya sebagai wakil imam di Masjid Merah walau ia masih tetap menjadi pegawai pemerintah.

Nama Abdul Rasyid Al Ghazi tambah berkibar sebagai tokoh agama di media-media masa pada tahun 2001. Terutama, ketika kelompok-kelompok Muslim mendirikan ”Gerakan Pembela Afghanistan” untuk merespon serangan Amerika ke Afghanistan.

Ia juga sebagai salah satu tokoh penting yang berada di balik berbagai demonstrasi yang terjadi di Pakistan sebagai penentangan atas serangan Amerika ke Afghanistan pada waktu itu.

Sejak saat itu, namanya terus dikenal. Sampai-sampai, beberapa pihak, tepatnya tahun 2004 terjadi usaha percobaan pembunuhan terhadap dirinya dan kelompoknya. Akibat seringnya terjadi usaha pembunuhan, menyebabkannya selalu menaruh senapan Klasenkov buatan Rusia di dalam mobilnya. Kemungkinan, pembunuhan sang ayah, telah ikut mengilhaminya hingga untuk selalu membawa senapan ke manapun saat pergi dengan pengawalan teman-temannya. Apalagi di tempat itu, senjata sisa perang Afghan masih mudah di dapat. Yang sedikit orang tahu, Al Ghazi, adalah pejuang tegakknya syariah Islam di Pakistan. Yang, tentu saja paling kurang diinginkan Barat. [IoL/Toriq/www.hidayatullah.com]

160 Santri Tewas oleh Serbuan Aparat Pakistan


Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Rabu, 11 Juli 2007
Aparat Pakistan akhirnya menyerbu Masjid Merah. Tak ayal, puluhan santri sekitar 169 orang lebih tewas oleh terjangan senjata

Hidayatullah.com—Aparat keamanan Pakistan akhirnya menyelesaikan persoalan berkaitan dengan Masjid Merah (Lal Masjid) dengan harus menewaskan 160 santri, termasuk pemimpin kharismatik sekolah Islam Maulana Abdul Rashid Ghazi.

Sebagaimana diketahui, pasukan pemerintah yang sudah sepekan mengepung masjid itu nekat menyerbu madrasah yang terhubung di sampingnya. Pasukan pemerintah melancarkan serangan menjelang fajar kemarin. Namun, hingga sepuluh jam setelah penyerbuan, pasukan pemerintah belum berhasil menangkap santri yang bercokol di masjid tersebut.

"Kelompok pertama yang dibebaskan para santri adalah 50 perempuan. Mereka tiba-tiba muncul menyusul 26 anak yang melarikan diri," kata Khalid Pervez, pejabat senior pemerintah kota Islamabad.

Menurut salah seorang pejabat militer yang tidak mau menyebutkan identitasnya, istri dan anak perempuan Maulana Abdul Aziz termasuk dalam kelompok sandera yang dibebaskan. Aziz adalah saudara laki-laki ulama Abdul Rashid Ghazi sekaligus pemimpin Masjid Lal yang melarikan diri dengan mengenakan burqa pada hari kedua krisis.

Operasi pembebasan sandera tersebut mendapatkan perlawanan hebat dari kelompok santri yang bersembunyi di dalam masjid. Jubir militer Mayjen Waheed Arshad mengatakan, baku tembak berlangsung menegangkan. "Untuk menghindari terjadinya kerusakan parah, kami melakukan aksi tersebut secara bertahap. Kami memasuki kamar satu per satu," terang Arshad dalam konferensi pers kemarin.

Namun rencana itu berubah saat Presiden Pakistan, Pervez Musharraf mengizinkan pasukannya melancarkan aksi militer ke masjid tersebut setelah pihak pemerintah menganggap upaya perundingan gagal. Beberapa menit sebelum penyerbuan, mantan PM Chaudhry Shujaat Hussain menegaskan bahwa perundingan dengan Ghazi tidak membuahkan hasil.

"Perundingan gagal karena Ghazi meminta disediakan jalur aman untuk santri asing," lapor Menteri Agama Ijaz-ul Haq.

Ulama senior Rehmatullah Khalil yang terlibat dalam negosiasi tersebut menuding Musharraf sebagai biang kegagalan tersebut. Menurut dia, pemimpin 63 tahun itu telah menyabotase draf kesepakatan yang disusun sebelumnya. Sebenarnya Hussain telah merancang kesepakatan yang diyakini akan disetujui Ghazi.

"Kami senang mendengar rancangan itu dan berharap bisa memberikan kabar baik kepada masyarakat. Tapi, pemerintah kemudian mengubah hampir seluruh isi rancangan tersebut," tuturnya kemarin.

Tak pelak, bentrokan terjadi. Santri yang bersenjata peluncur roket dan senapan mesin memindahkan Ghazi dan beberapa sandera ke sebuah kamar di lantai dasar.

Senangkan Barat

Keputusan Musharraf menyerbu masjid yang berada di jantung kota Islamabad tersebut disambut hangat sejumlah pakar politik. Sebab, menurut mereka, pemimpin pro-Amerika Serikat (AS) itu dihadapkan pada pilihan yang sama-sama sulit. Yaitu, bertahan di luar masjid dengan konsekuensi akan menghadapi ancaman teror pada masa-masa mendatang atau menggempur mereka dan menghadapi pertumpahan darah.

Karena itu, keputusan yang diambil Musharraf sudah tepat untuk mencegah terjadinya ancaman serupa pada masa yang akan datang. "Gejala ekstremisme di Pakistan sudah lebih nyata daripada ancaman semata. Gejala tersebut sudah mulai menggerogoti keamanan internal negeri ini," papar Rasool Bakhsh Raees, profesor ilmu politik di Lahore University of Management and Sciences yang pro pemerintah.

Munculnya krisis Masjid Lal secara tidak langsung telah menjadikan Musharraf sebagai pusat perhatian. Bagaimanapun, Musharraf dikenal sekutu dekat Presiden AS George W. Bush dalam perang antiteror global. Karena itu, ada anggapan, keputusan menyerang –meski itu mengorbakan rakyatnya sendiri—lebih baik dibanding reputasinya jatuh di mata Amerika.

"Jika pemerintah meluluskan permintaan Ghazi, citra Musharraf di mata negara-negara Barat akan hancur," papar Tauseef Ahmed, salah seorang dosen di Urdu University, Karachi.

Sementara itu, hingga hari ini tidak jelas benar, bagaimana sekolah Islam dan para santri itu bisa melawan aparat dengan menggunakan senjata. Dan tak satupun media -khususnya Barat-- secara kritis melakukan investigasi, dari mana sumber-sumber senjata itu diperoleh atau dipasok.

Harap tahu saja, santri Masjid Merah dikenal kuat mengkampanyekan syariah Islam. Namun media Barat –sebagaimana biasa diikuti serempak pers Indonesia tanpa seleksi—semua langsung menuduh seolah-olah mereka adalah kelompok militan dan kelompok radikal yang layak ditembaki. [cha, berbagai sumber/www.hidayatullah.com]

Thursday, July 5, 2007

Menhan Australia Buka Rahasia, Invasi ke Irak Motifnya Memang Minyak


Pengakuan Australia makin menguatkan dugaan tentang apa sebenarnya motif invasi AS dan koalisinya ke Irak. Untuk pertama kalinya, Negeri Kanguru mengakui bahwa minyaklah yang menjadi motif keikutsertaan mereka dalam invasi AS ke Negeri 1001 Malam itu.

Pengakuan tersebut dilontarkan oleh Menteri Pertahanan Australia Brendan Nelson, Kamis (5/7). Pada Australian Broadcasting Corporation ia mengatakan bahwa "pengamanan energi" adalah salah satu prioritas Australia mendukung invasi AS ke Irak.

Pernyataan Nelson makin menguatkan argumen para aktivis anti-perang yang meyakini bahwa invasi AS ke Irak tahun 2003 hingga hari ini, bertujuan untuk menguasai hasil minyak bumi Irak dan bukan untuk memberangus ancaman senjata pemusnah massal rejim Sadaam Hussein. Apalagi setelah itu terbukti tidak ada ancaman tersebut.

"Kenyataannya, bukan hanya Irak, tapi seluruh kawasanTimur Tengah adalah penyedia sumber energi yang penting bagi dunia, khususnya bahan bakar minyak, " ujar Nelson.

"Sangat penting bagi Australia untuk memandang bahwa itu juga menjadi kepentingan kita, untuk kepentingan keamanan kita, untuk memastikan bahwa kami berada di Timur Tengah, utamanya di Irak dalam posisi untuk menopang keamanan kami, " sambungnya.

Selain itu, kata Nelson, sangat penting bagi Australia untuk mendukung "pengaruh" AS dan Inggris. "Kami berada di sana juga untuk mendukung sekutu-sekutu utama kami yaitu AS, dan kami berada di sana untuk memastikan bahwa kami tidak akan terkena dampak terorisme akibat perang di Irak yang bisa mengganggu stabilitas wilayah kami, " imbuhnya.

Apa yang diungkapkan Nelson sangat bertolak belakang dengan pernyataan PM Australia John Howard saat invasi ke Irak Februari 2003 lalu. Saat itu Howard membantah bahwa motif invasi itu terkait minyak. Sama dengan sekutunya Presiden AS George W. Bush, Howard mengatakan bahwa invasi dilakukan terkait dengan ancaman senjata pemusnah massal yang dibuat rejim Saddam Hussein, pemimpin Irak saat itu. (ln/aljz)

eramuslim, Kamis, 5 Jul 07 14:49 WIB

Tuesday, June 19, 2007

"Studi Agama-Agama di Yogyakarta"

UGM membuka program ’studi agama-agama’. Sayang, jika pembukaan studi itu harus 'menjual' aqidah Islam. Baca Catatan Akhir Pekan Adian Husaini ke-199

Oleh: Adian Husaini

Beberapa hari lalu saya menerima sebuah brosur tentang studi agama-agama untuk tingkat doktor (Ph.D.) di Yogyakarta. Tepatnya, studi agama ini bernama ”Inter-religious International Ph.D. Program”. Program ini bertempat di Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, dan terselenggara atas kerjasama UGM, UIN Sunan Kalijaga dan Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Ketiga kampus itu bekerjasama membentuk satu konsorsium yang diberi nama ”Indonesian Consortium for Religious Studies” (ICRS- Yogya).

Direktur konsorsium ini adalah Pror Dr Bernard Adeney-Risakotta, seorang penganut Kristen asal Amerika Serikat. Sebenarnya, konsorsium ini sudah diresmikan di Yogya pada Januari 2007 lalu. Pengukuhan dilakukan oleh Sri Sultan di Kraton Yogya, yang juga dihadiri oleh Rektor UGM (ketika itu) Prof. Dr. Sofian Effendi, Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Dr HM Amin Abdullah, dan Rektor UKDW Pdt. Dr. Budyanto. Kini, ICRS sudah mulai menerima mahasiswa, dan direncanakan, perkuliahan akan dimulai pada September 2007 mendatang.

Juga, Harian Kompas (7 Oktober 2006), sudah pernah memuat berita tentang studi Lintas Agama untuk program S-3 yang diselenggarakan ICRS Yogya ini. Kompas menulis bahwa selain mempelajari lebih mendalam tentang keberagaman agama di Indonesia, pendirian program doktoral ini juga bertujuan untuk memberi pencerahan bagi masyarakat Indonesia agar tidak terjebak dalam fanatisme sempit. Ketika itu baru dalam tahap penandatanganan nota kesepahaman (MoU) penyelenggaraan program S3 Inter-Religious Studies oleh ICRS di Keraton Yogya.

Ketika itu, Sultan mengemukakan, sejak era reformasi, sebagian masyarakat kehilangan budaya rukun. Ini terbukti dari sering terjadinya benturan antarpenganut agama di Indonesia. "Fanatisme sempitlah yang melatarinya. Salah satunya karena terkadang ada pemimpin agama yang lebih menekankan prinsip superioritas dan eksklusif. Dalam khotbah atau ceramah misi misalnya, prinsip toleransi juga kurang ditekankan. Pola seperti ini harus dibenahi," kata Sultan, seperti dikutip Kompas.

Prof Dr Bernard Adeney, Director ICRS Yogya, mengutarakan, ICRS Yogya merupakan konsorsium pertama yang menggabungkan universitas-universitas dengan semangat saling percaya untuk belajar satu sama lain tentang keberagaman agama di Indonesia. "Program doktor ini akan mengkaji semua agama-agama di Indonesia melalui dialog dan pendekatan ilmu sosial sekuler, studi agama perspektif Islam, dan tradisi ilmu teologi Kristen. Agama-agama lain juga diteliti melalui pendekatan masing-masing yang diperkaya dengan dialog lintas agama," kata Bernard Adeney.

Sedangkan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Dr HM Amin Abdullah menuturkan, dipilihnya Yogyakarta sebagai tempat penyelenggaraan program S3 Inter-Religious Studies ini dengan pertimbangan proses akulturasi sudah berjalan lama dan tidak ada masalah. "Kedua, pendidikan dan rumah sakit di DIY berjalan tanpa fanatisme. Terbukti dari pasien rumah sakit dan siswa sekolah sangat beragam. Ketiga, di Yogyakarta tidak ada wilayah eksklusif antarpenganut agama sehingga iklimnya mendukung," kata Amin.

Demikianlah laporan tentang program studi lintas-agama oleh ICRS Yogya, sebagaimana diberitakan Kompas. Berita itu memang sudah cukup lama. Tapi, sepertinya kurang mendapat perhatian serius dari berbagai kalangan, khususnya kaum Muslim di Yogya. Beberapa kali saya ke Yogyakarta tidak mendengar informasi yang serius tentang masalah ini. Padahal, pembukaan program studi lintas agama ini merupakan gebrakan besar dalam studi agama-agama di Indonesia.

Untuk itu, ada baiknya, kita menelaah tujuan dan latar belakang serta visi dan misi studi lintas agama tingkat doktoral di Yogyakarta yang melibatkan tiga kampus tersebut, berdasarkan pada brosur dan website konsorsium (www.icrsyogya.net).

Menurut pengelolanya, program studi agama-agama oleh ICRS ini barangkali merupakan yang pertama di dunia, yang disponsori oleh institusi Islam (UIN), Kristen (UKDW), dan sekuler (UGM). Pada banyak negara, program seperti ini tidak pernah terpikirkan. Karena itu, momentum pendirian program ini adalah peristiwa bersejarah bagi Indonesia. Rencananya, program ini juga menjalin kerjasama dengan berbagai kampus di dunia.

Dijelaskan, bahwa keistimewaan dari program ICRS Yogya ini adalah studi tentang agama-agama Indonesia, khususnya Islam Indonesia. (The primary strength of ICRS-Yogya is the study of Indonesian religions, especially Indonesian Islam). ICRS Yogya juga memiliki sumber-sumber yang kuat tentang studi Kristen Indonesia, dan juga menyediakan fasilitas untuk melakukan studi tentang Hindu, Budha, agama-agama China, dan juga agama-agama lokal. (ICRS-Yogya also has strong resources for the study of Indonesian Christianity, and can facilitate study of Balinese Hinduism, Indonesian Buddhism, Indonesian Chinese religions and indigenous local religions).

Ada yang menarik dari paparan ICRS tentang studi agama-agama tersebut. Mereka menggunakan istilah ”Indonesian religions” (”agama-agama Indonesia”), juga istilah “Indonesian Islam” (Islam Indonesia). Begitu juga istilah ”Indonesian Christianity”, “Balinese Hinduism”, “Indonesian Buddhism”, dan “Indonesian Chinese religions”.

Penggunaan istilah untuk agama-agama tersebut oleh ICRS sebenarnya agak ceroboh. Untuk Islam, terutama. Jika ada istilah “Indonesian Islam” atau “Islam Indonesia”, apakah lalu ada “Islam Arab”, “Islam Amerika”, “Islam Hongkong”, “Islam Kutub Utara”, “Islam Kutub Selatan”, dan sebagainya? Tentu saja hal itu tidak ada. Islam adalah agama yang satu, di mana pun berada. Tidak berbeda antara Islam yang ada di Arab, yang di China, yang di Kutub Utara atau di Kutub Selatan. Kaum Muslim di mana pun membaca syahadat yang sama, shalat lima waktu dengan cara yang sama, haji dengan cara yang sama, berhari raya Idul Fithri 1 Syawal dan Idul Adha 10 Zulhijjah, dan sebagainya. Al-Quran-nya pun juga satu dan alam bahasa Arab. Jadi, Islam tidak mengenal perbedaan agama karena faktor lokalitas.

Istilah agama dikaitkan dengan lokalitas semacam itu bisa digunakan untuk Hindu, semisal ”Balinese Hinduism”. Sebab, kaum Hindu sendiri menerima perbedaan agama karena faktor budaya lokal tersebut. Memang kaum Hindu mengakui adanya Hindu Bali, Jawa, Hindu Malaysia, Hindu India, dan sebagainya, yang semuanya tetap sebagai agama Hindu. Dalam buku ”Semua Agama Tidak Sama”, terbitan Media Hindu (2006), disebutkan: ”Seseorang dapat mengatakan bahwa terdapat lebih banyak agama di dalam Hindu daripada di luarnya. Agama Hindu mempunyai lebih banyak Dewa dan Dewi, lebih banyak pustaka suci, lebih banyak orang suci, maharesi, dan avatara dibandingkan dengan agama-agama utama dijadikan satu.”

Dalam berbagai aspek, Kristen juga terkait dengan lokalitas. Kaum Kristen di Indonesia, sembahyang dalam bahasa Indonesia. Berbeda dengan di negara-negara lain. Bibelnya juga dicetak dalam bahasa lokal. Masing-masing sekte memiliki cara sembahyang masing-masing. Karakter dan tradisi ritual dalam Kristen, Hindu, Budha, dan juga agama-agama China itu sangat berbeda dengan Islam yang mendasarkan ritualnya kepada wahyu dan teladan (sunnah) Nabi Muhammad saw. Karakter khas Islam seperti ini harusnya diakui dalam studi agama-agama; bukan disamaratakan istilahnya seperti ICRS.

ICRS juga menggunakan istilah ”indigenous local religions” (agama-agama lokal asli). Yang dimaksud oleh ICRS sebagai agama asli adalah ”agama suku”. Kita tidak tahu, apakah yang dimaksudkan juga termasuk berbagai aliran kebatinan atau kepercayaan yang ada di Indonesia. Untuk Indonesia, istilah ”indigenous local religions” atau ”agama suku” itu bisa menimbulkan masalah. Menurut Penpres 1/1965, ada enam agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha, dan Khonghucu. Dengan istilah itu, maka aliran Gatholoco, Darmogandhul, dan sebagainya, bisa disebut sebagai “agama lokal asli”. Sebaliknya, Islam, Kristen, dan sebagainya, dikategorikan sebagai”agama asing” atau ”agama pendatang”, sehingga kaum kebatinan di Indonesia pernah menggugat, mengapa agama pendatang diakui sedangkan agama yang asli justru tidak diakui!? Hingga kini, Departemen Agama tidak mengurusi masalah aliran kepercayaan di Indonesia. Tetapi, urusannya diserahkan kepada Depdiknas. Kini, ICRS mengangkat istilah ”agama lokal asli Indonesia”.

Dalam bukunya, Islam dan Kebatinan (Jakarta: Bulan Bintang, 1977), Prof. H.M. Rasjidi menulis kesulitannya untuk mencari kata asing dari kata ”kebatinan” di Indonesia. Menurut Rasjidi, ia pernah bertanya kepada tokoh kebatinan Indonesia, Wongsonegoro SH juga pernah mengaku ditanya wartawan asing tentang istilah yang tepat untuk kebatinan. Tetapi, belum juga mendapat jawaban yang memuaskan. Sejumlah kata yang dieksplorasi Rasjidi untuk menerjemahkan kata kebatinan diantaranya adalah ’Sciences occultes’, ’mystic’, ’metaphysic’, atau ’moralist’. Tentu tidak mudah untuk menyebut semua aliran kebatinan/kepercayaan di Indonesia sebagai ’religion’, sebagaimana Islam, Yahudi, Kristen, dan sebagainya.

Program doktoral studi lintas agama ICRS ini menawarkan tiga area kajian, yaitu: (1) Cultural and Historical Studies of Religion (2) Religion, Social Theory and Contemporary Issues, dan (3) Comparative Interpretation of Sacred Texts. Disebutkan dalam brosur program ini, dalam kajian agama-agama versi ICRS Yogya, misalnya, mahasiswa akan diajak untuk mendengarkan paparan tentang berbagai sejarah agama di Indonesia ditinjau dari berbagai perspektif dan diajar oleh para dosen dari berbagai disiplin dan berbagai agama. Sebagai contoh, para mahasiswa akan mendengar sejarah agama-agama di Indonesia dari agama Hindu, Budha, Islam, Kristen, juga dari kaum yang aspirasinya terabaikan (forgotten voices) seperti “indigenous Indonesian religions (agama suku)” dan kelompok-kelompok terlarang (forbidden groups).

Karena kajian agama-agama di ICRS terutama ditujukan kepada kajian Islam, maka dengan perspektif ICRS seperti itu, kita bisa membayangkan, doktor agama macam apa yang ingin dicetak oleh ICRS. Mereka tampaknya diarahkan untuk melakukan kajian agama-agama dari sudut pandang ”netral agama”. Para calon doktor bidang agama itu diarahkan untuk tidak lagi memiliki perspektif ”iman-kafir”, ”tauhid-syirik”, ”haq-bathil”, ”sunnah-bid’ah”, dan sebagainya. Semua agama dilihat sebagai fenomena budaya, fenomena sejarah, dan pengalaman spiritual. Bahkan, kelompok-kelompok terlarang yang dinyatakan sesat oleh umat Islam, seperti Agama Salamullahnya Lie Eden akan diterima dengan tangan terbuka dalam kajian agama-agama di ICRS Yogya ini.

Adalah juga menarik untuk mencermati ’corak pemikiran’ dosen-dosen yang dipasang sebagai pengajar di program doktor lintas agama ala ICRS Yogya ini. Dari UIN Yogya ada nama Prof. Dr. M. Amin Abdullah, rektor UIN Yogya yang sudah tersohor sebagai pendukung pemikiran Nasr Hamid Abu Zayd. Ada juga Dr. Nurcholish Setiawan, murid Abu Zayd yang menerbitkan disertasinya dengan judul ”Al-Quran Kitab Sastra Terbesar”. Ada Prof. Dr. Machasin yang menerbitkan disertasinya dengan judul ”Al-Qaddi Abd al-Jabbar, Mutasyabih al-Quran: Dalih Rasionalitas Al-Qur’an.” Ada Dr. Fatimah Husein yang menulis disertasi doktor di Melboerne University tentang hubungan Islam-Kristen di Indonesia dalam perspektif Muslim Inklusif dan Muslim Eksklusif. Ada juga Dr. Sahiron Syamsuddin, yang dikenal banyak menulis tentang pemikir liberal asal Suria, Muhammad Syahrur. Lalu, ada Prof. Dr. Iskandar Zulkarnain yang disertasinya diterbitkan dengan judul ”Gerakan Amadiyah di Indonesia”.

Diantara dosen tamu yang dicadangkan memberi kuliah adalah Prof. Dr. Nasr H. Abu Zaid (Utrecht, ISIM), Prof. Dr. Abdullahi A. An Na'im, dan Dr. Khaled M Abou El Fadl (UCLA). Kita sudah kenal siapa Nasr Hamid Abu Zayd. Dia adalah pemikir asal Mesir yang dikenal dengan pendapatnya bahwa Al-Quran adalah produk budaya (muntaj tsaqafi).

Sebagai umat Muslim, kita hanya bisa mengimbau kepada para profesor dan doktor bidang keislaman yang sedang berkuasa di UIN Yogya dan UGM, agar mereka menjaga amanahnya sebagai cendekiawan dan ulama Muslim, untuk meneruskan risalah kenabian Muhammad saw dalam menjaga dan menanamkan aqidah Islam, tidak mencampur aduk antara keimanan dan kekufuran, antara tauhid dan kemusyrikan, antara haq wal bathil, sebagaimana perilaku kaum Yahudi. (QS 2:42). Sebab, Al-Quran dengan tegas menyebutkan tugas utama para nabi adalah menyerukan tauhid dan menjauhkan manusia dari tindakan syirik. (QS 16:36). Al-Quran juga menyebutkan, bahwa Allah SWT sangat murka karena dituduh punya anak. (QS 19:88-91).

Para profesor dan doktor itu mudah-mudahan paham, bahwa untuk membangun kerukunan umat beragama, tidaklah perlu dilakukan dengan mengorbankan aqidah dan keyakinan akan kebenaran Islam. Nabi Muhammad saw telah memberikan suri tauladan, bagaimana membangun kerukunan umat beragama, tanpa mengorbankan keimanan.

Kita juga mengimbau, agar para tokoh, cendekiawan, mubaligh, aktivis Islam di Yogyakarta mau memahami dan peduli dengan masalah-masalah yang berkaitan dengan pendidikan keagamaan seperti ini. Sebab, ini berkaitan dengan masalah pemikiran dan aqidah Islam. Mudah-mudahan wilayah Yogyakarta diselamatkan dari berbagai musibah dan bencana. Amin. [Depok, 15 Juni 2007, www.hidayatullah.com]

Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini adalah hasil kerjasama antara Radio Dakta 107 FM dan www.hidayatullah.com

www.hidayatullah.com, Selasa, 19 Juni 2007

Thursday, June 7, 2007

Baasyir Belum Berfikir Menjadi Capres


Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) mengedepankan wacana pencalonan Amir Majelis Mujahidin Ustad Abu Bakar Baasyir sebagai calon presiden independen dalam pemilu 2009.

Menanggapi itu, Amir Majelis Mujahidin Ustad Abu Bakar Baasyir menyatakan, belum memikirkan masalah itu, sebab baginya siapa yang memimpin Indonesia ke depan, yang terpentingharus mampu mengedepankan penegakan syariat.

"Saya belum berfikir tentang itu, saya kira saya tidak mempunyai kemampuan untuk itu, saya cuma bertugas menasehati, " ujarnya usai jumpa pers pembentukan Brigade Pemburu Koruptor, di Hotel Sofyan Cikini, Jakarta, Rabu (6/6).

Menurutnya, meski saat ini tokoh yang diharapkan itu belum muncul, namun ia optimis dengan jalan dakwah yang saat ini ditempuhnya, pasti Allah akan mengabulkan apa yang diinginkannya bersama umat Islam lainnya.

"Sabar saja, Allah pasti akan menurunkannya karena Islam itu pasti menang, tidak mungkin kalah, kalau belum ada tokoh yang pantas, kita harus tetap berjuang, " imbuh pemimpin Pondok Pesanteren Ngruki, Solo itu.

Baasyir menghimbau, agar umat Islam dapat bersungguh-sungguh dalam menjalankan ajaran agama yang diterapkan untuk kehidupan pribadi dan bernegara, sebab akan dipertanggungjawabkan akan langsung kepada Allah.

Ia menambahkan, kegagalan pemimpin di tanah air, disebabkan kepemimpinan mereka tidak dilandasi dengan keikhlasan, dan hanya berdasarkan kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi.

Sementara itu, Ketua Tim Advokasi FUI Munarman menganggap Ustad Baasyir merupakan orang yang pantas memimpin negara, karena Baasyir dalah tokoh yang mampu bersikap konsisten dalam menegakan syariat Islam.

Meski demikian, Munarman menyerahkan, keputusan itu kepada Ustad Baasyir, apakah akan melanjutkan apa yang telah diwacanakan tersebut.

"Dia memang orang yang pantas, paling bersih, tapi kita lihat saja nanti, " tukasnya. (novel)

eramuslim.com, Kamis, 7 Jun 07 09:01 WIB